Djogdja Bikin Kangen
January 21st, 2012 § Leave a Comment
“Djogdja Bikin Kangen”
Saya tidak dapat menyalahkan apa yang tertulis di poster itu. Dalam 3 tahun terakhir, paling tidak saya telah mengunjungi Jogjakarta sekali setiap tahunnya. Mungkin hal itu pula yang dilakukan oleh banyak orang lain yang telah saya lewati ketika berdesak-desakan di pinggir Jalan Malioboro. Dalam tiga tahun tersebut, tidak ada perubahan besar yang saya rasakan. Jalan Malioboro tetap seperti itu adanya: pedagang-pedagang kerajinan khas Jogjakarta, kerumunan manusia berjalan acak, becak, delman, kelompok pengamen, dan turis. Mungkin begitu pula dengan bagian lain dari Jogjakarta, masih sama. Ada sesuatu yang telah lama tumbuh dan dipertahankan di sana.
Opini saya tidak akan sama jika saya mengunjungi Jogjakarta bersama orang tua saya yang dulu berkuliah di sana. Ayah saya pasti memiliki cerita lain, cerita versinya yang akan berbeda dengan apa yang akan saya sampaikan di sini. Walaupun saya tidak mengamatinya secara langsung, saya yakin perubahan pasti telah terjadi di berbagai elemen kota ini. Mempertahankan budaya di masa yang serba terbuka dan serba cepat bukanlah perkara mudah. Informasi tidak lagi diantar lewat tukang pos atau pengantar koran. Bepergian tidak pernah seinstan saat ini. Hal itu merupakan sebagian dari banyak penyebab lain yang membuat perubahan semakin sulit dihindari.
Di samping segala perubahan yang telah mengganti sejumlah kebiasaan, budaya, atau bahkan nilai yang pernah tumbuh di sana, terdapat setidaknya sisa-sisa yang masih dipertahankan dengan cukup apik. Saya rasa hal itulah yang membuat Djogdja Bikin Kangen. Hari-hari normal saya di kota tempat saya berkuliah dipenuhi dengan musik dari laptop atau MP3 player, fast food, sambungan internet, kendaraan bermotor, bunyi klakson, dan kesibukan orang-orang yang semakin lama semakin tidak peduli dengan apa yang orang lain lakukan. Saya tidak mengatakan bahwa hal-hal tersebut tidak akan kita temui di Jogja, tetapi ada hal-hal yang tidak biasa, berbeda dengan rutinitas yang saya temui setiap harinya.
Orang sederhana dan cenderung bodoh seperti saya yang tidak tahu banyak mengenai Jogjakarta selain Malioboro, Keraton, dan sekitarnya akan berkunjung lagi dan lagi ke tempat-tempat tersebut. Di sana saya melihat orang-orang dari berbagai kelas berkerumun, tawar-menawar dan menimbang untuk barang-barang khas Jogja yang bisa jadi sangat pasaran dan murah atau sangat antik, berseni, dan mahal. Saya juga melihat sekumpulan pengamen memainkan lagu berbahasa Jawa dan berirama dangdut dengan sangat bersemangat. Orang-orang benar-benar berhenti dan menikmati pertunjukan mereka yang tidak biasa, beberapa di antaranya tersenyum melihat aksi salah seorang pengamen yang menari dengan lihai, mengikuti lagu dan musik yang dimainkan. Saat berjalan santai di pusat perbelanjaan seperti Malioboro atau Rotowijayan, tidak jarang pejalan kaki harus menepi dan memberi jalan untuk becak dan delman yang melintas. Di sepanjang jalan, kita akan menemui tidak sedikit tukang becak atau tukang delman yang menunggu penumpang atau berjalan santai melewati jalanan yang sudah sesak oleh manusia.
Sekadar berbelanja, naik becak, dan menambah koleksi benda-benda unik khas Jogja dan menikmati keramaian di sana mungkin tidak cukup. Sebagian besar orang yang datang ke Jogja akan meluangkan waktu untuk mengunjungi kawasan wisata budaya lain, seperti Keraton, Taman Sari, Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko. Walaupun mungkin sebagian besar pengunjung lebih tertarik untuk membuat foto diri dibandingkan mempelajari budaya dan sejarah tempat-tempat tersebut, mereka terus kembali dan membanjiri kota ini.
Mengapa Jogjakarta? Apa yang begitu menarik bagi banyak orang sehingga kota ini tampak tidak pernah sepi pengunjung? Berbicara mengenai budaya, banyak daerah lain di Indonesia yang juga “menjual” kebudayaan mereka untuk dilihat, dinikmati, dan dipelajari oleh para wisatawan. Mungkin serupa dengan pertanyaan lain yang sering saya lontarkan, “Mengapa terus-menerus pantai di Bali, padahal Indonesia punya pantai indah lain, seperti di Pacitan dan Belitung?”
Saya mengagumi Jogjakarta yang tampak memahami benar aset yang mereka miliki dan menjadikan hal tersebut bermanfaat bagi semua yang hidup atau sekadar berkunjung ke sana. Kota ini berhasil membuat dirinya dikenal dan dicintai dengan mudahnya oleh banyak orang. Kota ini berhasil menciptakan impresi yang baik dan layak dikenang karena budaya yang memang telah tumbuh lama dan dipertahankan di sana. Mungkin sebenarnya hanya segelintir orang yang benar-benar mempelajari budaya tersebut. Kebanyakan hanya datang untuk melihat ‘Jogjakarta yang terkenal’, mencoba gudeg dan angkringan langsung dari daerah asalnya, membeli bakpia yang mungkin bukan makanan tradisional favoritnya, dan pulang membawa kaos bertuliskan “I love Jogja” atau tulisan-tulisan lain yang menunjukkan betapa Jogja telah behasil merebut hati pengunjungnya. Setiap orang datang ke sana dengan alasan dan tujuannya masing-masing. Tidak ada yang salah dengan sekadar melihat tempat wisata dan membeli oleh-oleh. Selama masih dibanjiri pengunjung, hal itu sudah cukup untuk membuat Jogjakarta terus hidup. Berbagai usaha yang menjadi sumber kehidupan banyak orang, tidak hanya penduduk lokal, akan terus tumbuh di sana.
Jogja tahu apa yang mereka punya dan bagaimana cara ‘menjualnya’ dengan baik. Saya yakin banyak usaha dan pengorbanan yang telah dilakukan untuk mewujudkan Jogjakarta hingga menjadi seperti yang saya lihat dan ceritakan. Upaya-upaya tersebut tidak hanya dilakukan oleh pemerintah, tetapi juga oleh seluruh lapisan masyarakat. Saya suka ketika menyadari bahwa para pengendara mobil dan motor bersikap cukup toleran terhadap keberadaan becak dan delman di samping kesemerawutan dan kemacetan yang disebabkan oleh keduanya. Saya suka melihat penataan kota Jogja yang tidak hanya rapi, tetapi juga dipatuhi dan dirawat dengan baik oleh masyarakatnya.
Mungkin kata-kata saya di atas terlalu naif. Di balik semua mekanisme yang tampak berjalan dengan baik, pasti terdapat masalah-masalah yang tidak dapat disadari dengan mudah oleh pengunjung seperti saya yang hanya singgah selama 2-3 hari di kota itu. Bagaimanapun, sebagai orang awam, saya mengagumi Jogjakarta yang mampu menumbuhkan harmoni di antara tradisi lamanya dan perubahan-perubahan dalam modernisasi yang tidak bisa (dan tidak boleh) dihindari.
Sudah beberapa kali saya mengunjungi Jogjakarta dan kembali ke tempat yang itu-itu saja. Sejauh ini, saya belum merasa bosan. Mungkin karena saya menikmati berada di antara kerumunan begitu banyak orang tanpa harus benar-benar berinteraksi dengan mereka. Mungkin saya suka mengamati kota yang begitu ramai, begitu hidup, dan begitu ekspresif dengan berbagai cara yang sesuai dengan selera saya. Mungkin, sama seperti ribuan orang yang terus kembali ke sana, saya merasa nyaman berada di Jogjakarta.
